TUGAS 1.1.a.3
1.
Tulisan Reflektif Kritis
- Apa yang ada Anda ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan pengajaran?
- Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara khusus?
- Apakah Anda merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai guru?
- Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?
- Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini?
- Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
Tuliskan jawaban minimum 300 kata dan maksimum 500 kata.
2. Harapan dan Ekspektasi
Ungkapkan Harapan dan Ekspektasi Anda terkait dengan pembelajaran pada modul ini.
“Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah menanamkan budaya buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan jaman. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.
Tantangan di era revolusi Industri 4.0 kian berat. Dalam situasi ini, hal yang sangat penting dibutuhkan adalah perlunya karakter yang kuat. Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan mengenai pendidikan karakter. Pendidikan karakter dinamakan sebagai pendidikan budi pekerti. Dengan budi pekerti, tiap manusia merupakan manusia merdeka yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Budi pekerti adalah bulatnya jiwa manusia, bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang menimbulkan tenaga. Pendidikan budi pekerti memiliki tujuan untuk mengalahkan dasar-dasar manusia, artinya melenyapkan dasar-dasar yang jahat. Jika dikaitkan dengan revolusi industri 4.0 maka dapat dikatakan bahwa walaupun berbagai keterampilan dibutuhkan, namun karakter yang kuat menjadi modal bagi siswa untuk dapat bertahan dan menghadapi berbagai permasalahan yang semakin kompleks.
Demikian juga dengan situasi pendidikan di sekolah saya saat ini. Siswa banyak yang meninggalkan nilai-nilai budi pekerti. Meskipun siswa tersebut cerdas dalam aspek kognitif dan psikomotorik, namun mereka lemah dalam hal sikap spiritual sosial.
Saya merasa belum melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai guru. Saya masih sering memaksa siswa saya melaksanakan prosedur pembelajaran yang sudah saya tetapkan tanpa melibatkan mereka dalam perumusannya. Saya tidak melakukan observasi latar belakang kondisi siswa saya terlebih dahulu.
Setelah mempelajari modul, saya ingin lebih mengenali kelemahan dan kekuatan diri saya dalam kegiatan pembelajaran di kelas dan dalam menjalankan peran saya sebagai guru. Saya harus menyelesaikan kekurangan saya dan memperluas kekuatan saya. saya harus mampu menghadirkan kemerdekaan belajar bagi siswa-siswa saya.
Harapan saya terhadap siswa-siswa saya adalah munculnya bakat-bakat hebat dari setiap siswa berdasarkan kodrat mereka sendiri. Sehingga mereka dapat mengasah bakat tersebut menjadi jalan kesuksesan mereka dalam menghadapi kehidupan yang nyata.
Saya berharap pada modul ini tercipta kegiatan yang interaktif baik antar guru penggerak maupun dengan fasilitator sehingga materi yang terdapat pada modul dapat dikuasai secara utuh dan dapat dipraktikkan di sekolah masing-masing.”
Komentar
Posting Komentar